Zina Atas Nama Cinta

Posted on

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi yang pesat telah membantu proses transformasi budaya dari negara-negara barat yang maju. Image maju ini kemudian menjadi hal penting dan terkadang menjadi bumerang untuk yang tidak bisa menguasainya. Adapun indikator dari pengertian maju ini dan disertai perasaan terlanjur cinta, sayangnya hanya mengacu pada gaya hidup bangsa barat saja dan bangsa timur selalu mengikutinya. Seks bebas atau zina semakin membabi buta.

Kita yang hidup di lingkungan budaya timur tentu selalu mengedepankan sisi kesopanan dari setiap masyarakatnya. Hal itu tidak bisa terlepas karena sudah menjadi dasar dari nenek moyang kita. Namun, apa jadinya jika asumsi terlanjur cinta menjadi mengakar dalam setiap anak muda di budaya timur? Ini yang harus dibenahi.

Transformasi budaya ini selanjutnya diikuti dengan transformasi nilai, paham liberalisme yang mendudukkan hak individu pada posisi tertinggi, kemudian diterima mentah dan dipahami sebagai serba boleh. Termasuk pula di dalamnya anggapan bahwa melakukan hubungan seks dengan memakai landasan terlanjur cinta adalah hak bagi tiap individu yang tidak menjadi sebuah larangan karena dianggapnya sudah menjadi lumrah.

Atas nama hak maka tidak boleh ada lagi perbedaan nilai antara seorang pria dan wanita yang pernah melakukan hubungan seks pranikah yang berlatar belakang terlanjur cinta. Dengan sendirinya, rasanya tidak adil untuk menghakimi masa lalu orang lain yang jadi pasangan kita, termasuk dengan siapa saja dia dulu pernah melakukan hubungan seks.

Asumsi ini, akhirnya makin mendorong anak gadis untuk lebih berani melakukan hubungan seks pranikah dan mengabaikan arti keperawanan. Semua itu berlatarkan dengan perasaan terlanjur cinta. Dan jika hal itu sudah terjadi maka kerugianlah yang akan membayanginya.

Terlanjur cinta, adalah alasan klasik yang dinyatakan para gadis ketika ditanya motif apa yang melatari keberaniannya untuk melakukan hubungan seks pranikah. Kita tidak perlu membahas pernyataan itu lebih lanjut. Yang jelas seorang wanita yang telah mengalami menstruasi, menandakan bahwa organ-organ reproduksinya sudah mulai dapat berfungsi secara sempurna.
Mulai berfungsinya organ reproduksi, maka akan mendorong hasrat untuk melakukan hubungan seks. Ini adalah konsekuensi psikis, biologis, dan fisiologis yang wajar. Namun, kenyataan ini harus mulai mendapat perhatian serius dari para orang tua, terlebih karena mereka pernah muda dan pernah memiliki dorongan itu pada masa remajanya. Sekarang bagaimana caranya agar asumsi terlanjur cinta menjadi sebuah makna yang indah karena telah diikuti oleh aturan-aturan.

Salah satunya adalah dengan komunikasi. Komunikasi menjadi hal yang sangat penting. Bukan masanya lagi orang tua merasa malu untuk bediskusi tentang seks dengan anak remajanya. Kita tidak bisa lagi menyerahkan persoalan ini pada aturan agama, dengan menyebut bahwa perbuatan zina adalah dosa besar dan menjadikan alasan terlanjur cinta menjadi kambing hitam.

Larangan dengan pernyataan itu saja masih belum cukup. Dengan mengatasnamakan larangan agama dan asumsi terlanjur cinta, masih banyak dalih yang bisa dilontarkan. Satu-satunya jalan, yakni harus dengan adanya contoh nyata yang bisa ditunjukkan, yang akan jadi risiko jika seorang remaja melakukan hubungan seks pranikah.

Terlanjur cinta. Lagi-lagi alasan klasik seperti ini yang mengemuka. Perlu diingat bahwa hubungan seks tidak selamanya terjadi dengan alasan terlanjur cinta. Boleh jadi ketika Anda melakukan hubungan seks pranikah, karena didorong oleh perasaan yang sangat Anda yakini sebagai benar, bahwa Anda terlanjur cinta pada pasangan Anda.

Namun pertanyaannya, bagaimana dengan pasangan Anda? Apakah dia melakukannya juga karena terlanjur cinta kepada Anda, atau sekadar melampiaskan nafsunya saja. Alasan pertama maupun kedua adalah sama-sama menjadi sesuatu yang tidak bagus untuk masa depan dan perkembangan gadis remaja. Bagaimana tidak, dengan terjadinya perbuatan seks pranikah akan membuat bayangan hitam, terutama bagi gadis remaja dan keluarganya.

Hal ini juga penting untuk Anda pertimbangkan sebelum Anda melakukan hubungan seks/zina untuk yang pertama kalinya dengan mengambil asumsi terlanjur cinta. Karena jika Anda tidak memperhatikan hal ini, tidak tertutup kemungkinan Anda akan tersakiti, terlebih untuk batin/psikis dan pastinya berdampak terhadap masa depan Anda sendiri. Pendidikan terbengkalai, menjadi aib keluarga, sisi kebanggaan keluarga terhadap anaknya menjadi hilang.

Terlebih jika Anda tidak kuat menerimanya mungkin Anda akan depresi bahkan yang paling parah, kesehatan jiwa Anda bisa terganggu. Minimal, hilangkanlah alasan terlanjur cinta untuk memulai suatu hubungan yang akan mengarah ke tingkat seks pranikah.

Seks pranikah yang dilatari perasaan terlanjur cinta memungkinkan pelakunya untuk bergonta ganti pasangan. Kedepannya, sikap itu akan menjadi suatu kebiasaan dan bisa dikatakan sudah menjadi kegemaran. Sialnya, kecenderungan ini akan makin mempermudah penularan penyakit kelamin yang pasti akan memperburuk kehidupan Anda. Dan biasanya, remaja yang terjangkit penyakit kelamin akan malu dan takut untuk berobat.

Mereka akan berusaha mengobati dirinya sendiri dengan minum antibiotik secara serampangan, atau membiarkannya dan berharap akan sembuh dengan sendirinya. Cara yang sering dilakukan ini justru akan memperparah kondisi Anda. Risiko tersebut terjadi karena terlalu mengagung-agungkan alasan terlanjur cinta.

Jika sampai mengalami hal ini, sebaiknya buang rasa takut dan malu Anda. Utarakan terus terang pada orang tua Anda, dan jangan sungkan untuk berobat ke dokter. Ingat, kesehatan Anda lebih penting dari pada rasa malu atau takut Anda. Hilangkanlah persepsi terlanjur cinta yang telah Anda lakukan di masa lalu.

Yang sering terjadi, adalah kehamilan di luar nikah. Harus selalu diingat adalah bahwa sikap terlanjur cinta tidak selamanya berdampak positif. Apabila ini sampai terjadi, maka Anda akan kehilangan masa muda Anda yang indah. Karena Anda akan disibukkan oleh urusan keluarga dan anak Anda, dan itu akan berlangsung seumur hidup Anda.Tidak jarang akan tertular juga kepada anak Anda kelak.

Aborsi? Sebaiknya jangan, karena Anda bisa berakhir dipenjara dan semua itu disebabkan oleh perasaan terlanjur cinta. Selain itu, Anda pun akan bertambah dosa untuk kesekian kalinya karena melakukan aborsi adalah sama saja dengan membunuh. Anda bisa membayangkan, bagaimana kejinya melihat janin yang punya hak untuk hidup dan menikmati keindahan dalam kehidupannya harus berakhir di tangan Anda selaku orang tua. Orang tua yang melakukan suatu kejelekan, tetapi anak yang harus menanggungnya. Sungguh sesuatu yang tidak adil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *