Sejarah dan Hikmah Qiroah Sab’ah

Posted on

Al Qur’an adalah wahyu yang di turunkan oleh Alloh kepada Nabi SAW. Sejak masa turunnya hingga sekarang, ayat-ayat dan surat-suratnya tak putus-putusnya dibaca dan diperbincangkan oleh kaum Muslimin. Semua tahu bahwa Al Qur’an yang ada pada kita sekarang ini adalah Al Qur’an yang diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad s.a.w empat belas abad yang lalu, dan Alloh telah menjaganya dari kebathilan sampai hari kiamat, sebagaimana di terangkan dalam firmanNya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran, dan Kami tentu menjaganya.” (QS 15:9)

I. DALIL ( PETUNJUK ) PENURUNAN AL-QUR’AN ATAS 7 HURUF
Sungguh banyak hadits-hadits yang menerangkan hal itu, di antaranya yang di riwayatkan dari Umar bin al-Khottob semoga Alloh meridoinya.

Bercerita kepadaku Said bin Ufair dia berkata, bercerita padaku Laits dia berkata, bercerita padaku Uqail dari Ibnu Syihab dia berkata, bercerita padaku Urwah bin Zubair, Sesungguhnya Miswar bin Mahkromah dan Abdurrohman bin Abdul Qoriy bercerita kepadanya, Sesungguhnya keduanya mendengar dari Umar, dia berkata, Saya mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqon pada masa hidup Rosululloh, aku dengarkan bacaannya ternyata dia membaca dengan huruf-huruf yang banyak yang tidak membacakannya Rosululloh kepadaku, maka hampir aku menyalahkannya pada waktu sholat, maka aku bersabar hingga dia mengucapkan salam, lalu aku tarik jubahnya dan aku Tanya : Siapa yang membacakan surat kepadamu yang tadi aku dengar? Dia menjawab: Rosululloh membacakannya padaku. Aku berkata: Kau dusta, karena Rosululloh membacakan surat itu kepadaku tidak seperti yang kau baca. Lalu aku pergi membawanya kepada Rosululloh, Aku berkata : Ya Roaululloh, aku dengar dia ( Hisyam ) membaca surat Al-Furqon dengan huruf yang tidak engkau bacakan kepadaku. Lalu Rosululloh bersabda: Bacalah Hisyam ! lalu dia ( Hisyam ) membaca dengan bacaan yang tadi aku dengar. Lalu Rosululloh bersabda : Begitulah dia (Al-Qur’an) di turunkan. Kemudian Rosululloh bersabda : Bacalah Umar ! Lalu aku baca dengan bacaan yang beliau bacakan kepadaku. Lalu Rosululloh bersabda : Begitulah dia (al-Qur’an) di turunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an di turunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah bagimu. ( HR Bukhori )
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِى سُلَيْمَانُ عَنْ يُونُسَ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللهِ b قَالَ أَقْرَأَنِى جِبْرِيلُ عَلَى حَرْفٍ ، فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيدُهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ ٭ رواه البخارى
Bercerita padaku Ismail dia berkata, bercerita padaku Sulaiman dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Ubaidillah ibna Abdillah ibna Utbah ibna Mas’udi dari Ibnu abbas Rodiyallohu anhuma, Sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda: Telah membacakan padaku Jibril atas huruf, maka tidak henti-hentinya aku minta tambahan padanya sehingga sampai pada tujuh huruf. (HR Bukhori)

II. HIKMAH PENURUNAN AL-QUR’AN DENGAN TUJUH HURUF
Yaitu meringankan dan memudahkan kepada Umat Muhammad, karena bangsa Arab yang di turuni Al-Qur’an dengan bahasa mereka, lisan mereka berbeda-beda, dan dialek mereka juga berbeda-beda, maka kalau Alloh membebani mereka dengan dialek yang berbeda dan berpindah pada lainnya pasti hal itu berat bagi mereka, dan tentu termasuk pembebanan hal yang tak mampu di lakukan , dan hal itu bertentangan dengan toleransi islam dan kemudahannya.

III. YANG DI MAKSUD DENGAN TUJUH HURUF
Banyak pendapat para Ulama tentang apa yang di maksud dengan tujuh huruf, tetapi pendapat yang di pilih oleh Syekh Abdul Fatah Al-Qodi dalam kitabnya Al-Wafi ialah pendapat Imam Abu Fadl Ar Rozi, yaitu: bahwa yang di maksud dengan tujuh huruf adalah segi-segi yang terjadi padanya perubahan dan perbedaan, dan segi-segi ini tidak keluar dari tujuh, yaitu:

  • Perbedaan isim dalam mufrod,mutsanna dan jama’.
  • Perbedaan penafsiran Fi’il dari madly, mudhori’ dan amr.
  • Perbedaan segi pengi’roban.
  • Perbedaan dengan menetapkan dan membuang.
  • Perbedaan dengan mendahulukan dan mengakhirkan.
  • Perbedaan dengan menjadikan satu huruf pada tempat lain.
  • Perbedaan pada dialek seperti fatah, imalah, idghom dan idhar, mengganti hamzah dan mentakhfifkannya dan menaqolkan harokat hamzah atau menetapkannya.

IV. KENAPA BACAAN-BACAAN ITU DI NISBATKAN KEPADA PARA IMAM AHLI MEMBACA ?

Adanya bacaan itu di nisbatkan kepada para Imam ahli membaca, karena masing-masing Imam tersebut menghabiskan masa hidupnya membaca qiroah yang ia masyhur dengannya, dan ia bacakan kepada manusia maka di katakan qiro’ah Nafi’ begini, dan qiro’ah Ibnu katsir begini. Maka ini penisbatan yang langgeng dan melekat begitu juga bacaan dan membacakannya, dan bukan penisbatan yang di buat-buat atau di ada-adakan. Al-Qur’an dan Qiroat ini diterima dengan Talaqqi dan dari lisan langsung juga dari syekh-syekh yang bersambung sanadnya dengan Rosululloh SAW.

V. 7 Imam Al Qur’an

1. Nafi’ al-Madani
Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu’aim al-Laitsi, maula Ja’unah bin Syu’ub al-Laitsi. Berasal dari Isfahan. Wafat di Madinah pada tahun 177 H.

Ia mempelajari Qira’atdari Abu Ja’far Yazid bin Qa’qa’, Abdurrahman bin Hurmuz, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin ‘Iyasy bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi; mereka semua menerima qiraat yang mereka ajarkan dari Ubay bin Ka’ab dari Rasulullah.

Murid-murid Imam Nafi’ banyak sekali, antara lain : Imam Malik bin Anas, al-Lais bin Sa’ad, Abu ‘Amar ibn al-‘Alla’, ‘Isa bin Wardan dan Sulaiman bin Jamaz.

Perawi Qira’at Imam Nafi’ yang terkenal ada dua orang, yaitu Qaaluun (w. 220 H) dan Warasy (w.197 H).

2. Ibn Kasir al-Makki
Nama lengkapnya adalah Abdullah ibn Kasir bin Umar bin Abdullah bin Zada bin Fairuz bin Hurmuz al-Makki. Lahir di Makkah tahun 45 H. dan wafat juga di Makkah tahun 120 H.

Beliau mempelajari Qira’atdari Abu as-Sa’ib, Abdullah bin Sa’ib al-Makhzumi, Mujahid bin Jabr al-Makki dan Diryas (maula Ibn ‘Abbas). Mereka semua masing-masing menerima dari Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Umar bin Khattab; ketiga Sahabat ini menerimanya langsung dari Rasulullah SAW.

Murid-murid Imam Ibn KAsir banyak sekali, namun perawi qiraatnya yang terkenal ada dua orang, yaitu Bazzi (w. 250 H) dan Qunbul (w. 251 H).

3. Abu’Amr al-Basri
Nama lengkapnya Zabban bin ‘Alla’ bin ‘Ammar bin ‘Aryan al-Mazani at-Tamimi al-Bashr. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Yahya. Beliau adalah imam Bashrah sekaligus ahli qiraat Bashrah. Beliau lahir di Mekkah tahun 70 H, besar di Bashrah, kemudian bersama ayahnya berangkat ke Makkah dan Madinah. Wafat di Kufah pada tahun 154 H.

Beliau belajar Qira’atdari Abu Ja’far, Syaibah bin Nasah, Nafi’ bin Abu Nu’aim, Abdullah ibn Kasir, ‘Ashim bin Abu al-Nujud dan Abu al-‘aliyah. Abu al-‘Aliyah menerimanya dari Umar bin Khattab, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Abbas. Keempat Sahabat ini menerima Qira’atlangsung dari Rasulullah SAW.

Murid beliau banyak sekali, yang terkenal adalah Yahya bin Mubarak bin Mughirah al-Yazidi (w. 202 H.) Dari Yahya inilah kedua perawi qiraat Abu ‘Amr menerima qiraatnya, yaitu al-Duuri (w. 246 H) dan al-Suusii (w. 261 H).

4. Abdullah bin ‘Amir al-Syami
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin ‘Amir bin Yazid bin Tamim bin Rabi’ah al-Yahshabi. Nama panggilannya adalah Abu ‘Amr, ia termasuk golongan Tabi’in. Beliau adalah imam qiraat negeri Syam, lahir pada tahun 8 H, wafat pada tahun 118 H di Damsyik.

Ibn ‘Amir menerima Qira’atdari Mugirah bin Abu Syihab, Abdullah bin Umar bin Mugirah al-Makhzumi dan Abu Darda’ dari Utsaman bin Affan dari Rasulullah SAW.

Di antara para muridnya yang menjadi perawi qiraatnya yang terkenal adalah Hisyam (w. 145 H) dan Ibn Zakwaan (w. 242 H).

5. ‘Ashim al-Kufi
Nama lengkapnya adalah ‘Ashim bin Abu al-Nujud. Ada yang mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Abdullah, sedang Abu al-Nujud adalah nama panggilannya. Nama panggilan ‘Ashim sendiri adalah Abu Bakar, ia masih tergolong Tabi’in. Beliau wafat pada tahun 127 H.

Beliau menerima Qira’at dari Abu Abdurrahman bin Abdullah al-Salami, Wazar bin Hubaisy al-Asadi dan Abu Umar Saad bin Ilyas al-Syaibani. Mereka bertiga menerimanya dari Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud menerimanya dari Rasulullah SAW.

Di antara para muridnya yang menjadi perawi qiraatnya yang terkenal adalah Syu’bah (w.193 H) dan Hafs (w. 180H).

6. Hamzah al-Kufi
Nama lengkapnya adalah Hamzah bin Habib bin ‘Ammarah bin Ismail al-Kufi. Beliau adalah imam qiraat di Kufah setelah Imam ‘Ashim. Lahir pada tahun 80 H., wafat pada tahun 156 H di Halwan, suatu kota di Iraq.

Beliau belajar dan mengambil qiraat dari Abu Hamzah Hamran bin A’yun, Abu Ishaq ‘Amr bin Abdullah al-Sabi’I, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Ya’la, Abu Muhammad Talhah bin Mashraf al-Yamani dan Abu Abdullah Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainul ‘Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib serta Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah SAW.

Di antara para muridnya yang menjadi perawi Qira’at-nya yang terkenal adalah Khalaf (w. 150 H) dan Khallad (w. 229 H).

7. Al-Kisa’i al-Kufi
Nama lengkapnya adalah Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Usman al-Nahwi. Nama panggilannya Abul Hasan dan ia bergelar Kisa’i karena ia mulai melakukan ihram di Kisaa’i. Beliau wafat pada tahun 189 H.

Beliau mengambil Qira’atdari banyak ulama. Diantaranya adalah Hamzah bin Habib al-Zayyat, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Laia, ‘Ashim bin Abun Nujud, Abu Bakar bin’Ilyasy dan Ismail bin Ja’far yang menerimanya dari Syaibah bin Nashah (guru Imam Nafi’ al-Madani), mereka semua mempunyai sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW.

Murid-murid Imam Kisa’i yang dikenal sebagai perawi yang dikenal sebagai perawi qira’at-nya adalah al-Lais (w. 240 H) dan Hafsh ad-Duuri (w. 246 H).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *