Jun 212016
 
Bisnis PayTren/Treni -Ustadz Yusuf Mansur

Sejarah dan hikmah Nuzulul Quran bagi umat Islam, sebagaimana diketahui bahwa 5 ayat pertama dari Surat Al-Alaq diwahyukan kepada Rasulullah SAW lewat perantara Malaikat Jibril di saat Lailatul Qadar. Kejadian tersebut dikenal juga sebagai tanda pelantikan seorang manusia menjadi rasul, utusan Allah yang terakhir. Dalam firman-Nya, “Bacalah Dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Yang mengajarkan (manusia) apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq: 1-5)

Hikmah Nuzulul Quran sebagai momentum untuk menghayati risalah suci yang dibawa Rasulullah SAW yang terangkum dalam Al-Quran. Risalah itu dimaksud sebagai pembentuk karakteristik manusia menjadi seorang mukmin yang sejati lewat sebuah proses transformasi jiwa. Proses transformasi jiwa ini dimungkinkan oleh kekuatan logis pikiran yang merupakan perluasan dari prinsip intelektual Muslim. Disini, hati (qalbu) memegang peran penting mengantarkan proses itu terjadi.

Sejarah Nuzulul Quran diawali dengan wahyu pertama yang turun memberi makna pada upaya penyadaran manusia akan proses penciptaan diri dan pembentukan budi pekerti dan moral. Proses itulah yang akhirnya mengantarkan manusia memahami risalah Ilahiah yang terkandung dalam Al-Quran sebagai pedoman hidup. Semua proses itu ternyata tak bisa dilepaskan dari campur tangan Allah SWT.

Sejarah dan Hikmah Nuzulul Quran Bagi Umat Islam

Sejarah dan Hikmah Nuzulul Quran Bagi Umat Islam

Jiwa yang suci dengan bakat nalurinya bersedia menerima segala hakikat pengetahuan sebagaimana yang terjadi pada diri Muhammad SAW saat diperintahkan oleh Malaikat Jibril membaca wahyu pertama. Padahal, saat itu Rasul SAW tak bisa membaca dan menulis. Sejarah Nuzulul Quran menyebutkan bahwa dengan tuntunan Jibril, yang mengulang perintahnya sampai tiga kali, akhirnya Nabi Muhammad SAW dapat membaca ayat-ayat pertama tersebut dengan lancar. Maka, sangatlah wajar bila Al-Quran sebagai penuntun hidup manusia sangat mudah didekati oleh yang jernih.

Lewat pendekatan hati, kedalaman dan ketinggian risalah kenabian bahwasannya hikmah Nuzulul Quran akan dapat diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini ditegaskan Al-Quran yang mengabadikan penerimaan hati Rasulullah SAW saat menerima wahyu pertama. Matinya tidak mendustakan apa yang telah diiihatnya (QS 53:11).

Tiada malam yang sangat istimewa dalam perjalanan Islam kecuali malam Nuzulul Quran. Di malam inilah berkumpul kejadian-kejadian istimewa; sesuatu yang istimewa yang sangat diperlukan sebagai penuntun umat manusia turun, yaitu Al-Quran. Hikmah ibadah puasa Ramadhan yang penuh kemuliaan, kesucian, dan keberkahan secara pasti mendorong upaya tersebut dengan menjadikan Al-Quran sebagai sumber pedoman tingkah laku atau berakhlak.

Dalam sejarah Nuzulul Quran, terjadi pelantikan dan pengukuhan manusia paling istimewa sebagai pembawa risalah dan penjelas Al-Quran dan semua yang dikehendaki Allah Zat Penguasa kehidupan, yaitu Nabi Muhammad SAW, serta dibentangkan malam penentu keadaan yang ditaburi banyak kemuliaan yang satu malamnya bernilai lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar.

Sejarah Nuzulul Al-Quran tidak hanya mengandung sebuah penegasan atas kemuliaannya dan sekaligus yang menerimanya, yaitu Nabi Muhamamd ,tetapi juga harus diiringi semangat untuk kembali kepada Al-Quran dan sunah, mempelajarai, menghayati, dan berazam mengamalkannya. Inilah hikmah Nuzulul Quran bagi umat Islam yang bisa diambil pelajaran darinya.

Antara Al-Quran dengan Nabi Muhammad adalah sesuatu yang tidak bisa dipisah. Bahkan, jika ingin mengetahui bagaimana Al-Quran dalam penerapan terbaik, jawabannya ada pada diri Nabi Muhammad. Karena itu, hikmah Nuzulul Quran harusnya dimaknai sebagai upaya untuk kembali mempelajari dan mengamalkan isi Al-Quran.

Ada banyak keterangan yang menyebutkan bahwa Al-Quran memberikan petunjuk seputar persoalan akidah, syariah dan akhlak, dengan jalan meletakan prinsip dasar tentang persoalan tersebut; dan Allah SWT menugaskan Rasulullah SAW untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu: “Kami telah turunkan kepdamu Al-Dzikir (Al-Qur’an) untuk kamu terangkan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka agar mereka berfikir” (QS 16:44).

Dalam sejarah dan hikmah Nuzulul Quran seakan memberi petunjuk ikhwal akhlak yang harus dikedepankan sebagai seorang pribadi muslim dalam melakukan jalinan muamalah, hubungan antar manusia dengan sesamanya menjadi bagian utama. Bahkan ketika Rasulullah SAW ditanya oleh salah seorang sahabat, apa yang harus dikerjakan dalam hidup? Beliau menjawab Muamalah atau hubungan antarmanusia. Mengapa hubungan antar manusia menjadi prioritas Nabi, karena hakikatnya hubungan antar manusia adalah kunci utama dalam hidup.

Sejarah dan hikmah Nuzulul Quran, Allah SWT tidak akan mengampuni kesalahan hambanya, jika seorang hamba itu tidak bisa memaafkan antarsesama atau antarmanusia. Maksudnya jalinan hubungan antarmanusia (Habulumminannas) memiliki urgensi yang utama serta vital dihadapan-NYA. Sehingga apabila seorang hamba akan melakukan hubungan dengan Allah SWT (Hablumminallah), alangkah baiknya dibenahi sejak awal hubungan antar manusianya. Sebab sesungguhnya akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran.

Sebagai manusia yang terlahir dan hidup dalam alam nyata, alam kehidupan sosial. Dan kehidupan sosial ada pula nilai-nilai sosial yang mengatur tata hubungan antaranggota masyarakat itu sendiri. Maka dengan nilai-nilai sosial ini diharapkan dapat memperhitungkan apa yang akan dilakukan antara satu dengan yang lainnya. Seperti kehidupan bertetangga yang harus dijalin secara baik. Karena tanpa ada komunikasi, hidup akan terasa hampa, sepi dan tak bertuan.

Diantara hikmah Nuzulul Quran bagi umat Islam, sejatinya mengajak manusia memasuki proses penyucian diri, kemudian menegakkan komitmen sosial, yang dijabarkan dengan berbagai bentuk, seperti shodaqoh, zakat dan membantu antar sesama dengan berbagai hal. Mengeluarkan zakat dan bantuan lainnya agar didasarkan pada keikhlasan sebagai manifestasi nilai-nilai tauhid dan menjalin hubungan secara baik dengan sesamanya. Kesemua itu, sebenarnya kunci dari perwujudan akhlak karimah.

Hikmah dan sejarah Nuzulul Quran merupakan salah satu pilar penting terkait dengan hubungan antarmanusia, yang memiliki dimensi akhlak mulia ini adalah kemampuan berbagidengan orang lain, baik dalam bentuk nasihat, tegur sapa, atau berbagi dalam bentuk materi. Oleh karena itu, momentum bulan suci Ramadhan dapat kita jadikan sebagai salah satu sarana mempedomani Al-Quran guna dijadikan panduan dalam kerangka melakukan hubungan antarmanusia.

Sejarah dan hikmah Nuzulul Quran juga mengandung pelajaran tentang perlunya berlomba-lomba dalam kebajikan, yang harus dipahami pada kebaikan secara universal. Kebaikan yang tidak mengenal batas agama, ras atau dari golongan manapun. Sehingga berlomba-lomba dalam kebaikan tidak melihat identitas orang itu, dari mana ia berasal dan kebaikan universal inilah yang harus ditanamkan sebagai wujud masyarakat yang berakhlak mulia.

Bisnis PayTren/Treni -Ustadz Yusuf Mansur

 Leave a Reply

(required)

(required)