Masturbasi atau Onani Menurut Hukum Islam

Masturbasi atau Onani Menurut Hukum Islam

Posted on

Masturbasi atau onani menurut hukum Islam, sebagaimana diketahui kebiasaan buruk generasi muda adalah memainkan alat kelamin demi mendapatkan kenikmatan persetubuhan yang semu. Waktunya sangat bermacam-macam, ada yang sebulan sekali, seminggu sekali, bahkan ada yang setiap hari melakukan coli karena sudah kecanduan. Penyebabnya biasanya berawal dari film porno, bokep, foto bugil, tergoda lawan jenis dan sebagainya. Sebagai solusinya maka diperlukan cara berhenti onani yang bisa dicoba untuk cowok dan mengatasi ketagihan masturbasi bagi para cewek pada umumnya.

Hukum Islam sebagai suatu sistem yang menjunjung tinggi nilai moral dan akhlak mulia, memandang pekerjaan masturbasi atau onani sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai moral. Masturbasi atau Onani dalam bahasa Arab diistilahkan dengan istimna’. Secara defenisi, istimna’ berarti sebuah usaha untuk memperoleh kenikmatan dan pemuasan seksual dengan merangsang alat-alat kelamin sendiri dengan tangan atau alat lainnya.

Kecanduan merangsang diri sendiri telah membuat pelaku menjauhi nilai-nilai moral serta akhlak mulia yang menjadi konsep utama hukum Islam. Bahaya melakukan onani atau masturbasi berlebihan akan membawa efek samping kepada kesehatan si pelaku coli, badan lemas, lemah, anggota tubuh kaku dan bergetar, perasaan berdebar-debar dan pikiran tidak menentu. Belum lagi hal ini akan mempengaruhi produksi berbagai organ reproduksi yang normal, seperti berkurangnya kualitas sel telur dan sperma.

Masturbasi atau Onani Menurut Hukum Islam

Masturbasi atau Onani Menurut Hukum Islam

Imam Asy-Syafi’i dan Imam Malik mengharamkan perbuatan masturbasi atau onani atau merangsang alat kelamin sendiri dengan tujuan mencapai kepuasan tanpa pasangan yang sah. Hal ini sesuai ayat Al-Qur’an: “Dan mereka yang menjaga kehormatannya (dalam hubungan seksual) kecuali kepada istri atau hamba sahayanya, maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela. Maka barangsiapa yang menginginkan selain yang demikian, maka mereka adalah orang-orang yang melampaui batas,” (Al-Mu’minun: 5-7).

Menurut para ulama, ayat diatas berarti bahwa kebutuhan biologis atau dorongan seksual hanya bisa disalurkan kepada istri atau suami yang sah atau budak yang dimiliki. Di luar dari itu, apabila ada kontak seks atau diperoleh ejakulasi atas usaha sendiri dengan melakukan masturbasi atau onani, maka usaha tersebut hukumnya haram, meskipun pelakunya tidak sampai pada tindakan zina dan seks bebas.

Penjelasan Imam Asy-Syafi’i dan Imam Malik akan keharaman onani dalam hukum Islam diperkuat pula oleh riwayat berikut: “Ada 7 golongan yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat & Allah tidak mau mensucikan (tidak mengampuni dosanya) dan Allah tidak mau mengumpulkan mereka bersama orang yang beramal kebaikan. Dan Allah akan memasukkan mereka ke neraka sebagai orang-orang yang pertama kali masuk ke neraka, kecuali bahwasanya mereka bertaubat. Ketujuh Golongan itu ialah:
-Orang yang berzina dengan tangannya (onani/masturbasi),
-Orang yang mengerjai & yang dikerjai (gay dan lesbian)
-Orang yang membiasakan minum arak
-Orang yang memukul kedua orang tuanya hingga meminta tolong
-Orang yang menyakiti tetangganya hingga melaknatinya
-Orang yang berzina dengan istri tetangganya
(HR. Al-Baihaqi Fii Si’abul Iman 5232)

Adapun menurut Madzhab Hanafi juga mengharamkan melakukan masturbasi yang dilakukan untuk memperoleh kenikmatan seksual. Keseringan onani juga akan mengakibatkan pikiran menjadi salalu berpikir mesum atau dengan kata lain otak akan terpenuhi dengan hal yang porno-porno. Hal ini akan mengakibatkan banyak energi terkuras sehingga menyebabkan badan menjadi kurus dan lemah. Akibatnya seseorang akan malas bekerja, malas beribadah, tidak bersemangat untuk menikah dan banyak lagi.

Kenapa masturbasi dan onani diharamkan dalam agama Islam? Karena hanya akan mendorong pelakunya untuk melakukan hubungan seksual yang selanjutnya. Berdampak pada aspek negatif priskologis si pelaku, perasaan malu, menyesal dan berdosa terus menghinggapi. Sehingga minder untuk mendekati laki-laki atau wanita yang disukai.

Jangan Salah Mengartikan Diperbolehkannya Masturbasi

Dalam hukum Islam, onani adalah diharamkan dan berdosa. Namun jika alasan untuk melakukannya sebagai usaha untuk menghindari perbuatan zina, maka hukumnya berubah. Misalnya, apabila nafsu syahwat seseorang memuncak karena tidak kuat dirayu oleh lawan jenis yang begitu menggoda dan khawatir kalau tidak melakukan masturbasi akan terdorong melakukan seks bebas, maka hukum bagi praktek coli diperbolehkan.

Sebagian ulama Mazhab Hanbali berpendapat sama dengan sebagian ulama Mazhab Hanafi, yakni bahwa pada dasarnya hukum bagi istimna adalah haram. Namun, apabila tidak melakukan istimna akan mengakibatkan zina, maka hukum melakukan istimna’ itu boleh (mubah). Hal ini disimpulkan berdasarkan kaidah fiqh, “Diperbolehkan melakukan bahaya yang lebih ringan, untuk menghindari bahaya yang lebih berat.” Artinya, perbuatan zina merupakan salah satu dosa besar yang sanksinya berupa rajam atau cambuk seratus kali.

Untuk melengkapi postingan tentang masturbasi atau onani menurut hukum Islam, jika hati dan nurani merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan, itulah tandanya bahwa ada sesuatu yang salah dengan yang sedang diperbuat. Dan barang siapa yang berusaha untuk menjauhi bahan coli atas dasar taqwa dan iman kepada Allah Subhanahu waTa’ala, niscaya Allah akan mencukupinya. Insya-Allah hidayahNya akan membimbing seseorang itu menjauhi perbuatan nista tersebut dan akan digantiNya dengan anugerah ketenteraman jiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.