Akhlak Rasulullah

Macam-Macam Akhlak Rasulullah SAW Dalam Kehidupan

Posted on

Macam-macam akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan, Agama secara universal menitik beratkan tanggung jawab, pribadi dan sosial. Setiap individu bertanggung jawab akan dirinya dan juga bertanggung jawab akan sekelilingnya (masyarakatnya) karena manusialah yang hidup dalam lingkup komunitas yang beragam. Pernyataan ini tidak akan lepas dari pernyataan ayat Al-Quran tentang akhlak. Selain itu, kata iman merupakan komponen pribadi yang selalu ikut dengan kalimat amal sholeh mengandung kebiasaan terpuji.

Akhlak mulia Rasulullah SAW berhubungan erat dengan adab, etika, sopan santun, dan banyak lagi. Akhlak adalah harta yang sangat berharga dalam pertalian norma – norma kehidupan manusia. Akhlak identik dengan rel–rel panjang yang tidak dapat pisah dengan realita problematika kehidupan, bukanlah sebuah rel panjang yang menjadi benalu dalam hati akan tetapi dengan tanpa adanya akhlak maka dunia secara luas akan menjadi tanpa kata dan nilai.

Macam-Macam Akhlak Rasulullah SAW Dalam Kehidupan

Akhlak Rasulullah

Akhlak Rasul SAW yang seharusnya menjadi suri teladan bagi manusia, karena kepribadian beliau dengan seizin-Nya yang langsung telah berhasil mengubah masyarakat Jahiliyah menghijrahkan diri mereka ke dalam kehidupan yang benar-benar diridhai-Nya. Kepribadian beliau langsung menerjemahkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan masyarakat pada waktu itu. Ajaran yang beliau sampaikan langsung beliau contohkan dengan sikap dan perbuatan. Dibawah ini adalah Macam-macam akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan:

1. Akhlak Rasulullah SAW kepada Allah SWT
Akhlak beliau kepada Allah terbukti begitu sangat cintanya beliau kepada Allah SWT mengalahkan cinta beliau kepada selain-Nya. Ini yang beliau ajarkan dan contohkan kepada para sahabat dan ummat pada waktu itu, “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”(QS. Al Baqarah, 2:165).

Seorang mu’min, tidak akan mungkin mencintai sesuatu di dunia ini jika sesuatu itu tidak dicintai oleh Allah SWT. Seorang suami hanya akan mencintai istri jika dia yakin bahwa istrinya memang patut untuk dicintai oleh Allah, begitu sebaliknya seorang istri akan mencintai suaminya jika dia yakin suaminya memang orang yang patut untuk dicintai-Nya. Karena tidak mungkin bisa mencintai Allah SWT lalu pada saat yang sama juga mencintai yang tidak dicintai oleh Allah SWT.

2. Akhlak Rasulullah SAW sebagai orang yang dapat dipercaya
Akhlak Nabi SAW yang “Al Amin” (orang yang sangat dipercaya). Beliau berhasil mengajarkan konsep “Al Ihsan” ini kepada para sahabat. Yakni, berbuat baik itu adalah kita melakukan sesuatu pengabdian kepada Allah seakan-akan melihat Allah, kalau pun kenyataannya tidak bisa melihat Allah kita yakin betul bahwa Allah itu melihat kita.

Inilah modal utama untuk lahirnya sifat “Al Amin”, yakni munculnya figur orang-orang yang jujur yang selalu merasa bahwa dirinya baik ucap, sikap maupun perilakunya senantiasa dalam pengawasan Allah SWT.

3. Akhlak Rasulullah SAW dalam keluarga
Beliau dikenal sangat lemah-lembut terhadap istrinya bila saatnya memang harus lemah-lembut. Begitu juga sifat beliau keras dan tegas pada saat beliau memang harus keras dan tegas. Sesuai dengan firman Allah surah An Nisaa’ ayat 19 di mana Allah memerintahkan kepada para suami, “Dan pergaulilah istrimu dengan cara yang baik, jika engkau dapati pada diri istrimu itu ada watak dan tabiat yang kurang berkenan di hatimu bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.

4. Akhlak Rasulullah SAW murah senyum dan lemah lembut
Beliau sangat mencintai orang lemah yakni orang-orang yang sangat membutuhkan perhatian dan pertolongan termasuk orang-orang yang lemah dalam sisi harta. Sikap lemah-lembut, berkasih sayang sesama mu’min senantiasa diutamakan oleh beliau, sebaliknya beliau bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang yang melanggar hak-hak Allah, tidak ada kompromi dan toleransi bagi mereka. Hal ini sesuai dengan sabda beliau, “Senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)

5. Akhlak Rasulullah SAW adalah sabar
Akhlak kesabaran Rasulullah Saw dalam menghadapi berbagai tuduhan, fitnah bahkan upaya pembunuhan terhadap diri beliau. Perjuangan Rasulullah Saw di awali dengan perang urat syaraf, awalnya orang-orang Jahiliyah yang menentang Rasul menggunakan taktik psikologis dengan memadamkan semangat juang Rasul Saw dengan melemparkan bertubi-tubi ejekan (QS. Al Israa’, 17 : 90-93).

Setelah ejekan-ejekan tidak berhasil, mereka melemparkan tuduhan palsu dengan menyebarkan desas-desus bahwa beliau adalah ahli nujum, gila, ahli syair dan tukang sihir (QS. Ath Thuur, 52 : 30-33). Ketika semua gagal maka pendekatan mereka melalui wanita, harta dan tahta. Langkah ini pun tidak berhasil. Maka langkah pembunuhan diri Rasul Saw mulai mereka rancang, langkah ini pun gagal pula.

Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya” ( QS. Al Anfaal, 8 : 30)

6. Akhlak Rasulullah SAW adalah berbakti kepada orang tua
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al Isra: 23-24)

7. Akhlak Rasulullah SAW adalah menyayangi binatang
Ketika Rasulullah Saw sedang berada di tengah sahara beliau mendengar suara memanggil-manggil, “Ya Rasulullah!” hingga tiga kali. Beliau menoleh ke arah datangnya suara itu. Beliau melihat seekor kijang tertambat pada sebuah batu besar. Di sebelahnya seorang Arab pegunungan dalam keadaan tidur nyenyak, telentang di bawah sinar matahari.

Kepada kijang itu Rasulullah Saw bertanya, “Apa keperluanmu memanggil-manggil ?”

Kijang menjawab, “Orang yang tidur itu memburuku dan menangkapku, sedangkan aku mempunyai dua ekor anak di atas bukit itu. Tolonglah lepaskan aku agar aku dapat menyusui anak-anakku. Setelah itu aku akan kembali lagi ke tempat ini.”

Rasulullah Saw bertanya, “Benarkah engkau akan berbuat seperti itu?”

Kijang menjawab, “Allah Swt akan menimpakan hukuman berat atas diriku jika aku tidak kembali lagi ke tempat ini.”

Rasulullah Saw melepaskan kijang itu dan membiarkannya pergi untuk menyusui anak-anaknya. Beberapa lama kemudian kijang itu benar-benar kembali. Rasulullah Saw menambatkan kembali seperti semula. Tidak lama setelah itu, si pemburu bangun dari tidurnya. Melihat Rasulullah Saw berada di dekatnya si pemburu bertanya, “Ada perlu apa Anda datang kemari?”

Beliau Nabi SAW menjawab, “Kuminta engkau mau melepaskan kijang ini.”

Tanpa banyak berpikir lagi si pemburu memenuhi permintaan Rasulullah Saw. Setelah di lepas oleh si pemburu, kijang itu lari kencang meloncat-loncat kegirangan di padang pasir sambil terus berkata,”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Anda adalah utusan Allah.”

Peristiwa mukjizat tersebut terjadi di Madinah, yakni setelah Rasulullah Saw hijrah meninggalkan Makkah.

Selain mengetahui macam-macam akhlak Nabi dalam kehidupan, hal yang paling penting bagi kaum muslimn adalah meneladani dan menerapkan budi pekerti Nabi Muhammad SAW.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *