Kisah Abu Hurairah, Bapak Kucing Kecil

Posted on

Kisah Abu Hurairah, Bapak kucing kecil adalah hal yang penting dalam sejarah Islam dan hadits. Dilahirkan pada tahun 598 dengan nama asli Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi/ Abdullah bin Amin/ Abdur Rahman bin Shakhr. Lahir di Daus, sebuah desa di padang pasir Yaman. Hidup di tengah kabilah Azad, ia sudah yatim sejak kecil, yang membantu ibunya menjadi penggembala kambing. Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai kucing, yang selalu diberinya makan, digendongnya, bermain bersamanya dan diberinya tempat. Keunikan kucing tersebut adalah selalu menyertainya kemanapun beliau pergi. Inilah sebabnya beliau diberi gelar “Bapak Kucing Kecil”.

Abu Hurairah, Bapak kucing kecil dan lucu, adalah seorang catlover sejati. Menyayangi kucing persia, jenis ras dan lokal. Mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan. Apa yang didengarkannya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatan walaupun usia bertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah saw sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, serta meriwayatkannya.

Beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, yaitu kurang lebih sebanyak 5.374 hadits. Diantara yang meriwayatkan hadist darinya adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan lain-lain. Imam Bukhari pernah berkata: “Tercatat lebih dari 800 orang perawi hadits dari kalangan sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah”.

Sewaktu datang masa pemalsuan hadits yang dengan sengaja membikin hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah saw mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalahgunakan ketenarannya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi saw , hingga sering mereka mengeluarkan sebuah “hadits”, dengan menggunakan kata-kata: — “Berkata Abu Hurairah… “

Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran dan kedudukan Abu Hurairah, Bapak kucing kecil. Sehingga menimbulkan keragu-raguan dan tanda tanya di benak orang Islam. Banyak pengorbanan yang telah di habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya.

Beliau berhasil lolos dari jebakan kepalsuan dan penambahan yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambing hitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya. Ia adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakannya.

Kisah Abu Hurairah, Bapak kucing kecil, memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan kepada Nabi saw. Dan semenjak itulah beliau tidak berpisah lagi daripadanya kecuali pada saat-saat waktu tidur. Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah saw yakni sejak ia masuk islam sampai wafatnya. Dengan fitrahnya yang kuat, mendapat kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.

Abu Hurairah, Bapak kucing kecil, dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya. Pada waktu itu memang para shahabat yang mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul saw.

Beliau sadar termasuk orang yang masuk Islam di masa menjelang kematian Nabi aw. Maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti Rasul terus menerus dan secara tetap menyertai majlisnya. Kemudian disadarinya pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do’a Rasul agar pemilik bakat ini diberi berkah oleh Allah swt.

Abu Hurairah, Bapak kucing kecil, bukan tegolong dalam barisan penulis, tetapi sebagaimana telah kita utarakan, ia adalah seorang yang terampil menghafal lagi kuat ingatan. Beliau terus-menerus menyampaikan hadits-hadits. Ia menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemampuan karunia Ilahi untuk memikul tanggung jawab dan memelihara peninggalan yang sangat penting dan mewariskannya kepada generasi kemudian.

Abu Hurairah bisa meriwayatkan banyak hadist dari Rasulullah saw disebabkan, pertama: karena ia meluangkan waktu untuk menyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya. Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah diberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi semakin kuat. Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadits-hadits, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidupnya. Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalaiannya.

Marwan bin Hakam pernah menguji tingkat hafalan hadits Abu Hurairah, Bapak kucing kecil. Marwan memintanya untuk menyebutkan beberapa hadits, dan sekretaris Marwan mencatatnya. Setahun kemudian, Marwan memanggilnya lagi dan Abu Hurairah pun menyebutkan semua hadits yang pernah ia sampaikan tahun sebelumnya, tanpa tertinggal satu huruf.

Kisah Abu Hurairah, Bapak kucing kecil, meninggal di Madinah pada tahun 678 atau tahun 59 H, dan dimakamkan di Baqi’. Termasuk salah satu di antara kaum muhajirin yang tidak memiliki keluarga dan harta kekayaan, yang disebut Ahlush Shuffah, yaitu tempat tinggal mereka di depan Masjid Nabawi. Beliau mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Said bin Musayyib, yaitu salah seorang tokoh tabi’in terkemuka. Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa’ Abi Hurairah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *