Ilmu Tajwid Al-Quran

Ilmu Tajwid Al-Quran

Posted on

Ilmu Tajwid Al-Quran merupakan istilah yang berkaitan erat dengan hukum bacaan dalam firman Allah Subhanhu wa ta’ala. Seseorang yang mampu membaca dengan baik dan benar, pasti memperoleh banyak manfaat dan pahala yang lebih baik daripada mereka yang membaca tertatih-tatih. Hal ini merupakan bentuk motivasi agar senantiasa memperbaiki kualitas bacaan. Namun jika sudah mahir melantunkan kalam Ilahi tersebut, maka disarankan untuk mencoba tips bersuara merdu untuk membaca Al-Quran.

Bagi yang sejak kecil pernah belajar ilmu tajwid, belajar ngaji di pondok pesantren ataupun sekolah berbasis agama, tentu Anda tidak akan mengalami banyak kendala saat kembali mempelajarinya. Apapun metode yang digunakan, tekadkan dalam hati bahwa belajar tajwid Al-Quran untuk beribadah, mencari keridhoan Allah Swt. dan kehidupan akhirat. Selanjutnya, dapat memahami petunjuk arahan-Nya. Tanamkan dalam jiwa bahwa membaca Al-Quran sangat menyenangkan dan menentramkan jiwa.

Al-Quran sebagai pedoman hidup ibarat cahaya yang menerangi kegelapan dunia. Para ulama telah mengerahkan segala daya dan kemampuan untuk mengembangkannya, sejak dulu hingga sekarang. Sebagai Kalamullâh yang diturunkan dalam bahasa Arab yang tinggi derajatnya. Ilmu manusia bagaikan setetes embun di tengah samudera yang luas. Hal ini sangat wajar karena Kalamullah yang tiada terbatas ilmu-Nya. Adapun manusia hanya sekadar ciptaan-Nya yang memiliki kemampuan sangat terbatas.

Bagaimana mungkin ilmu manusia yang sangat terbatas mampu menjangkau ilmu Allah yang tiada terbatas. Walaupun demikian, upaya para ulama untuk membumikan Al-Quran merupakan usaha yang sangat terpuji, luar biasa, dan patut dihargai. Betapa tidak, dengan hadirnya karya-karya mereka kita dapat membaca Al-Quran secara lebih mudah, ikut merasakan keindahan bahasanya, kedalaman kandungan dan keabadian pesan-pesannya.

Ilmu Tajwid Al-Quran

Ilmu Tajwid Al-Quran

Dalam bahasa Arab terdapat tanda baca yang selalu ada dalam tiap ayat Al Qur’an. Tanda baca tersebut antara lain adalah fathah, kasrah, dan dhomah yang dpergunakan untuk mengeja huruf vokal dalam bahasa Indonesia. Berikut ini adalah ilmu Tajwid Al-Quran:

Tajwid menurut bahasa berasal dari kata جوّد-يجوّد-تجويدا yang berarti bagus atau membaguskan. Dalam ilmu Qiro’ah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Merupakan suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran maupun bukan.

Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu tajwid Al-Quran adalah makhorijul huruf (tempat keluar-masuk huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf (hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qashr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.

Ilmu Tajwid bertujuan untuk memberikan tuntunan bagaimana cara pengucapan ayat yang tepat, sehingga lafal dan maknanya tidak salah. Pengetahuan tentang makhroj huruf memberikan tuntunan bagaimana cara mengeluarkan huruf dari mulut dengan benar. Pengetahuan tentang sifat huruf berguna dalam pengucapan huruf. Dalam ahkamul maddi wal qashr berguna untuk mengetahui huruf yang harus dibaca panjang dan berapa harakat panjang bacaannya. Dan masih banyak lagi hukum-hukum bacaan Al-Quran yang lain.

Akibat dari tidak menggunakan ilmu tajwid untuk membaca Al-Quran, bisa-bisa terjadi ketidaksesuaian antara tulisan dengan maknanya. Misalnya di dalam Al-Qur’an terdapat kata ‘aalamin menggunakan huruf ‘ain yang memiliki makna beberapa alam (alam jin, alam manusia, alam malaikat, dll), sedangkan melafalkannya dengan aalamiin menggunakan huruf hamzah yang bermakna segala penyakit. Tentu hal tersebut adalah kesalahan sangat fatal.

Belajar ilmu tajwid Al-Quran tidak akan maksimal, kecuali belajar langsung kepada ustadz, ulama atau orang yang ahli dalam membaca kalam Ilahi. Dengan demikian, bagi siapapun yang membacanya harus benar dalam pengucapan hurufnya, agar tidak mengubah maknanya.

Hukum Ilmu Tajwid Al-Quran
Hukum belajar ilmu tajwid ialah fardhu kifayah. Artinya, jika di suatu tempat ada seseorang yang menguasainya, maka bagi umat Muslim yang lainnya tidak menanggung dosa. Namun sebaliknya, jikan tidak ada yang menguasai ilmu tersebut, seluruh kaum muslimin menanggung dosa.

Sementara, hukum membaca Al-Qur’an dengan tajwid ialah wajib a’in. wajib ‘ain artinya bagi seseorang yang mukalaf baik laki-laki maupun perempuan harus membaca Al-Qur’an dengan tajwid, kalau tidak, maka akan mendapat dosa. Hal ini berdasarkan Al-Qur’an dan ucapan para ulama.

Allah memberi jaminan keistimewaan lain pada kitab suci Al-Qur’an yakni terjaganya kemurnian kitab ini sepanjang masa. Manusia tak akan mampu mengubah, menambah atau mengurangi ayat-ayatnya. Jika pun ada yang hendak mencoba melakukannya, maka akan segera ketahuan oleh ummat Islam sebab telah banyak para penghafal Al-Qur’an yang tersebar di seluruh dunia. Adapun dalil-dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan hukum mempelajari ilmu tajwid, antara lain sebagai berikut.

1. Firman Allah SWT dalam QS. Al-Muzzamil ayat 4 yang artinya:
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” Ayat ini mengisyaratkan dengan jelas bahwa Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil, yaitu membaca dengan perlahan-lahan, benar sesuai hukum tajwid bacaan dan memperindah pelafalan setiap hurufnya. Selain itu, hal ini juga berlaku bagi seluruh umat muslim.

2. Firman Allah dalam QS. Al-Qiyamah ayat 16-17 yang artinya:
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.”

3. Sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh istri Rasulullah yaitu Ummu Salamah r.a, saat beliau ditanya tentang bagaimana bacaan Al-Qur’an dan sholat Rasulullah, maka beliau menjawab: “Ketahuilah bahwa Rasulullah sholat kemudian tidur yang lamanya sama seperti ketika beliau tidur lagi, kemudian Rasulullah sholat yang lamanya seperti saat beliau tidur tadi, kemudian beliau tidur lagi yang lamanya seperti saat beliau sholat tadi hingga menjelang subuh. ”Kemudian beliau (Ummu Salamah) mencontohkan cara Rasulullah membaca dengan (satu) bacaan yang menjelaskan (ucapan) huruf-hurufnya satu per satu. [Hadits 2847 Jamik At-Tirmidzi].

4. Firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al Baqarah: 121)

5. Firman Allah Azza wa Jalla: “……..dan kami membacanya dengan tartil (teratur dengan benar).” (Al Furqan: 32)

Dari beberapa ayat dan hadits diatas, secara tidak langsung menuntut agar kaum Muslimin mempelajari ilmu tajwid Al-Qur’an dengan fasih, tartil, menempatkan panjang pendek sesuai tempatnya, sifat-sifatnya, dan sebagainya. Untuk memahaminya dengan sempurna, diperlukan semangat tinggi dan pantang menyerah, misalnya selalu mentashihkan di depan guru yang kompeten. Selain itu, teknologi yang semakin canggih membuat lebih mudah dalam mempelajari kalam Ilahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.