Cara Bisnis Orang Tionghoa

Posted on

Cara bisnis orang Tionghoa perlu diterapkan agar tidak menjadi orang munafik dan mengatakan uang bukan segalanya bagi orang Islam. Faktanya untuk melakukan ibadah shalat butuh uang untuk membeli baju. Ibadah haji juga butuh uang. Menunaikan zakat butuh uang. Membangun pesantren juga butuh uang. Dan lain sebagainya. Islam juga tidak menganjurkan menjadi orang miskin. Yang wajib adalah cari uang halal dan menggunakannya untuk Allah.

Tapi sayangnya di Indonesia lebih menyukai profesi menjadi PNS/karyawan daripada menjadi berdagang atau bisnis. Karena pola pikirnya adalah mengejar zona AMAN. Maka tak heran, jika orang pribumi selalu kalah dengan orang Tionghoa dari sisi ekonomi. Solusinya adalah menjadi entrepreneur dengan mempelajari cara bisnis orang Tionghoa, berikut penjelasannya:

1. Terlibat Sejak Dini
Di kalangan pebisnis Tionghoa, melibatkan keluarga sejak dini adalah hal biasa. Bila seorang ayah membuka rumah makan, maka anak-anaknya ditugaskan menjadi pelayan, sedangkan istri menjadi kasir. Begitu anak beranjak dewasa, mereka sudah menguasai seluk-beluk bisnis di luar kepala dan menjalankannya tanpa canggung.

2. Berani Ambil Resiko
Keyakinan bahwa selalu ada kesempatan di setiap rintangan, membuat pengusaha Tionghoa lebih berani mengambil risiko. Kata gagal sepertinya sudah dihapus dari kamus mereka.

3. Administrasi dan Pembukuan yang Baik
Sebab mereka menerapkan sistem administrasi barang yang baik. Sedangkan pembukuan yang baik membuat arus kas berjalan lancar. Selain itu, pengusaha Tionghoa terbiasa hidup sederhana, yaitu dengan cara menggunakan hanya 20 persen dari penghasilan mereka. Bila punya pendapatan Rp 10 juta, maka yang digunakan untuk biaya hidup hanya Rp 2 juta saja dan sisanya ditabung atau diinvestasikan.

4. Faktor Kali
Kebanyakan keturunan Tionghoa tidak berbisnis yang canggih. Namun, yang dibutuhkan banyak orang. Bagi mereka, pada awalnya, prinsip yang dipegang adalah lebih baik cuan (untung) sedikit tetapi sering daripada untung besar namun hanya sekali. Mereka juga menyadari untuk memiliki sumber pemasukan sebanyak mungkin dan pengeluaran seminim mungkin. Pebisnis Tionghoa akan terus mengembangkan bisnisnya pada berbagai instrumen sehingga memiliki multi income.

5. Survei dan Belajar
Pengusaha Tionghoa yang akan memulai usaha tak segan bertanya dan belajar kepada siapa pun untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai usaha yang akan dimulainya. Mempelajari dengan sungguh-sungguh tentang usaha yang akan digeluti membuat usaha mereka cepat meroket, karena sudah tahu seluk beluknya.

6. Lebih Terbuka Soal Keuangan
Keturunan Tionghoa terbuka mengenai kondisi finansial. Mengungkapkan gaji atau pendapatan bukanlah sesuatu hal yang tabu. Bahkan bisa menjadi bahan pembicaraan di saat baru saling kenal. Bukan tidak sopan. Namun, untuk menilai lebih jauh bagaimana seseorang hidup dengan suatu pendapatan dan pada akhirnya tahu siapa yang harus dibantu.

7. Memelihara Hubungan Baik Konsumen dan Mitra Bisnis
Pengusaha Tionghoa terkenal pandai menjaga hubungan dengan pelanggan dan mitra bisnisnya. Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah memberikan hadiah kepada pelanggan. Memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Tanpa pelayanan yang memuaskan, dijamin pelanggan akan pindah ke lain hati.

8. Hemat dan Cermat dalam Mengelola Uang
Banyak yang berpendapat keturunan Tionghoa pelit. Sebenarnya tidak seperti itu. Mereka cermat mengeluarkan uang. Disarankan 10-20% pendapatan disisihkan untuk tabungan masa depan, keturunan Tionghoa mampu minimal 50%. Tiga harta terbesar yang dapat dimiliki adalah cinta, berhemat, dan kemurahan hati. Berhemat merupakan bagian integral dari budaya Tionghoa. Materi seperti mobil atau rumah mewah tak mampu membuat mereka merasa nyaman secara finansial.

9. Antisipasi Ketidakpastian di Masa Depan
Ketika banyak masyarakat memilih hidup hanya untuk saat ini, orang Tionghoa justru takut terhadap ketidakpastian masa depan. Mereka berusaha menyambut kehidupan di kemudian hari dengan persiapan yang baik. Hal ini berasal dari nilai Konghucu: “Di masa damai bersiaplah untuk perang”. Prinsip ini kemudian diletakkan dalam perspektif untuk selalu bersiap-siap akan datangnya masa sulit, bahkan pada saat hidup berlimpah harta.

10. Mengerti Cara Membuat Uang Tumbuh
Menjadi masyarakat yang sangat gemar menabung menjadikan keturunan Tionghoa faham bagaimana cara membuat uang bekerja untuk mereka. Mereka tahu, menabung saja tidak membuat mereka sukses secara finansial. Oleh sebab itu, mereka lebih senang berbisnis. Kalaupun bekerja, keturunan Tionghoa akan mencari produk keuangan yang memberikan imbal hasil paling besar. Mereka sadar, beda 0,5% saja akan memberi pengaruh besar dalam membentuk kekayaan secara jangka panjang.

11. Meminimalisir Hutang
Mereka bangga untuk menjadi bebas hutang. Meminjam uang dari teman atau bahkan kerabat adalah opsi terakhir dari masalah finansial. Mereka malu berhutang.  Bila tak bisa dihindari, mereka berusaha melunasinya segera. Kegagalan memenuhi kewajiban justru lebih memalukan. Mereka tidak akan berani menodai nama baik.

12. Memberi yang Terbaik kepada Orang Tua dan Guru
Memberikan penghormatan terhadap orang tua dan guru karena dianggap berjasa. Tidak ada tawar-menawar untuk memberikan yang terbaik kepada mereka. Diyakini, berbakti kepada orang tua dan guru akan memberikan kedamaian dan kehidupan yang lebih baik.

Untuk melengkapi artikel tentang cara bisnis orang Tionghoa, Islam sangat menganjurkan seorang muslim melakukan aktivitas bisnis untuk memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri dan keluarga. Karena sejarah kehidupan Nabi saw pun menunjukkan bahwa beliau dan sebagian para sahabatnya adalah para pedagang dan pebisnis professional. Beliau memuji serta mendoakan para pedagang yang jujur. Bekerja keras untuk mendapatkan rejeki yang halal adalah wajib dalam Islam. Allah berfirman dalam Al Quran: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Jumah:10).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *