Bulan Rajab

Bulan Rajab, Momen Awal Menyambut Ramadhan

Posted on

Bulan Rajab, Momen Awal Menyambut Ramadhan, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, ketiga bulan tersebut saling berurutan. Pasti ada hikmah di sana. Setidaknya, deretan bulan itu mengisyaratkan pentingnya penekanan ibadah menjelang bulan penuh ampunan, Ramadhan. Sebuah kesuksesan kerap kali tak bisa lepas dari persiapan yang matang. Ibarat seorang murid yang ingin berhasil lulus ujian maka setidaknya jauh-jauh hari telah bersiap diri menghadapi tes ujian keimanan dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala.

Bulan Rajab juga menyimpan peristiwa sejarah yang penting bagi umat Islam. Pada bulan Rajab tahun 10 kenabian (620 M) terjadinya peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa ini diperingati sebagai hari besar umat Islam karena merupakan momentum ketika Rasulullah SAW berangkat ke sidratul muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu. Rangkaian kejadian yang terjadi selama proses Isra Mi’raj merupakan bentuk akselerasi pengukuhan Muhammad SAW sebagai Rasul dan Nabi terakhir.

Perjalanan nyata yang melibatkan ruh sekaligus fisik Nabi Muhammad SAW. Penegasan ini tertuang di ayat pertama surah al-Isra’. “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Bulan Rajab, Momen Awal Menyambut Ramadhan

Bulan Rajab

Bulan Rajab laksana terminal utama untuk pemberhentian berikutnya, yakni Sya’ban dan Ramadhan. Intensitas ibadah di ketiga bulan tersebut memiliki dampak yang luar biasa, yakni pemaksimalan Ramadhan. Karena itu, hal mendasar yang mesti dilakukan ialah manajemen niat. Perbaruilah niat selalu. Niat yang terbarukan akan membantu mendongkrak semangat.

Selain itu, perbanyak puasa di Rajab dan Sya’ban. Secara khusus, anjuran-anjuran tertentu berikut keutamaan berpuasa Rajab, memang beberapa hadisnya dikategorikan lemah. Namun, berpuasa pada Rajab bisa merujuk ke landasan secara umum hadis-hadis berpuasa di bulan-bulan mulia (asyhur al hurum). Seperti riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad, Rasul bersabda, “Berpuasalah pada bulan-bulan haram.”

Sedangkan berpuasa Sya’ban, ini tak lagi bisa diragukan. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dari Aisyah ra. Rasulullah paling tampak berpuasa sunah di Sya’ban. Ada banyak prediksi maksud di balik pelaksanaan puasa pada bulan tersebut. Puasa itu dilakukan sebagai persiapan dan pemanasan menghadapi Ramadhan. Opsi lain menyebutkan bahwa Rasulullah melakukannya untuk menemani istrinya yang mengganti puasa Ramadhan di Sya’ban.

Kegiatan berikutnya untuk menyambut Ramadhan sejak Rajab ialah berbagi kabar gembira dan memotivasi sesama. Ini bisa dilakukan dengan menukar informasi perihal keutamaan Ramadhan. Rasulullah juga sering menerapkannya kepada para sahabat. Misalnya saja dalam hadis riwayat Nasai. “Telah datang kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah mewajibkan atas kalian berpuasa. Pintu langit dibuka dan pintu neraka ditutup.”

Ramadhan merupakan bulan idaman umat Islam, khususnya bagi yang ingin memperbaiki diri. Pembiasaan sejak dini akan mempermudah program ibadah sepanjang Ramadhan. Mulai dari hal-hal yang kecil, seperti menjauhi perkataan nista. Jika tak dihindari, ucapan-ucapan yang tak pantas bisa merusak pahala Ramadhan. Jangan lupa segera bayar utang puasa wajib yang terlewat. Para ulama sepakat, hendaknya seseorang membayar utang puasa wajib terlebih dahulu sebelum menunaikan puasa sunah.

Ramadhan kian maksimal dengan rangkaian program penyambutan. Menyambung tali silaturahim akan memperbanyak rezeki dan menjadikan umur bertambah berkah. Dari bersilaturahim pula akan mengikis kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat. Dengan demikian, saat Ramadhan tiba, kondisi diri telah siap dan bersih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *