Belajar Makna Ilmu Ikhlas Dalam Islam

Belajar makna ilmu ikhlas dalam Islam, sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Selain itu ikhlas juga mengandung arti meniadakan segala penyakit hati, seperti syirik, riya, munafik, dan takabur dalam ibadah. Ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Meski besar nilainya di mata manusia, amal tersebut tidak ada artinya di mata Allah bila tidak dibarengi dengan keikhlasan. Namun, sekecil apa pun kebajikan itu di mata manusia, bila dibarengi dengan niat yang baik, maka sangat besar nilainya di hadapan Allah.

Ilmu ikhlas dalam Islam menekankan untuk senantiasa memurnikan dari kotoran, membebaskan diri dari segala yang merusak niat dan tujuan dalam melakukan suatu amalan. Ungkapan “semata-mata karena Allah SWT” setidaknya mengandung tiga dimensi penghambaan, yaitu niatnya benar karena Allah (shalih al-niyyat), sesuai tata caranya (shalih al-kaifiyyat), dan tujuannya untuk mencari rida Allah SWT (shalih al-ghayat), bukan karena mengharap pujian, sanjungan, apresiasi, dan balasan dari selain Allah SWT.

Beribadah sesuai konsep ilmu ikhlas merupakan dambaan setiap Mukmin yang saleh karenahal tersebut akan mengantarkannya untuk benar-benar hanya menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, tidak menyekutukan atau menuhankan selain- Nya. “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun” (QS An-Nisa’ [4]: 36). Sesuai dengan firmanNya. “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162).

Belajar Makna Ilmu Ikhlas Dalam Islam

ilmu ikhlas dalam Islam

Bila ilmu ikhlas telah menjadi karakter hati dalam beramal ibadah, niscaya keberagamaan kita menjadi lurus, benar, dan istiqamah (konsisten). (Al-Bayyinah: 5). Selain kunci diterima tidaknya amal ibadah oleh Allah SWT. Menurut Imam Al-Ghazali, peringkat ikhlas itu ada tiga:

1. Ikhlas awam yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.

2. Ikhlas khawas, ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.

3. Ikhlas khawas al-khawas adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dia-lah Tuhan yang Maha Segala-galanya.

Ilmu ikhlas telah dijelaskan dalam hadits, ketika Allah SWT menciptakan bumi sebagai cikal-bakal hunian manusia, para malaikat takjub karena bola bumi itu bergetar entah berapa skala Richter. Setelah Allah meletakkan gunung sebagai paku bumi, langsung bola bumi itu diam. Malaikat bertanya, “Ya Allah, masih adakah lebih hebat daripada gunung?” Allah menjawab masih ada, yaitu besi. Besi dapat meratakan bukit dan gunung. Setelah itu, malaikat bertanya, “Ya Allah, masih adakah lebih hebat daripada besi?”

Allah pun menjawab, masih ada, yaitu api. Api dapat mencairkan besi. Malaikat bertanya lagi, “Ya Allah, masih adakah yang lebih hebat daripada api?” Dijawab Allah masih ada, yakni air. Air dapat mematikan api. Setelah itu, malaikat bertanya, masih adakah yang lebih hebat daripada air. Allah kembali menjawab masih ada, yaitu angin. Angin dapat menguapkan air. Malaikat pun terus bertanya, “Masih adakah yang lebih hebat daripada angin?”

Allah menjawab masih ada, yaitu orang-orang yang menyumbang tangan kanannya tidak ketahuan tangan kirinya, yakni orang-orang yang betul-betul ikhlas. Orang-orang ikhlas (mukhlisin) memiliki power atau kekuatan yang luar biasa. Mereka lebih hebat daripada gunung, besi, api, air, dan angin. Orang-orang ikhlas menjadikan power Tuhan sebagai kekuatannya. Kebanyakan di antara mereka tidak populer di bumi, tetapi amat populer di langit.

Mereka semua memang istimewa, yang memiliki sahabat-sahabat spiritual yang bekerja dengan caranya sendiri. Jangan sekali-kali memandang enteng orang-orang ikhlas karena para pengawalnya adalah malaikat. Keikhlasan itu terbagi dua. Ada keikhlasan yang diupayakan oleh orang. Dengan kata lain, masih belum menjadikannya sebagai kebiasaan, orangnya disebut mukhlish.

Jika makna ilmu ikhlas dalam Islam berhasil diterapkan, maka disebut mukhlash, jamaknya mukhlashun. Mukhlish masih terpengaruh oleh faktor eksternal dan sewaktu-waktu masih bisa kemasukan unsur riya.Terutama, saat seseorang menikmati banjir pujian terhadap prestasinya. Orang ini juga masih suka menyebut kebaikan dan prestasinya walaupun dengan niat untuk mendidik. Namun yang kedua, tidak bergeming sedikit pun dengan faktor dari luar.

Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas (al-mukhlasun) di antara mereka.” (QS al-Hijr [15]:39-40)

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andai kata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (al-mukhlashun).” (QS Yusuf [12]:24).

Ciri Ilmu Ikhlas Dalam Islam

1. Murni Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala
Ilmu ikhlas yang pertama adalah menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada noda yang mencampuri suatu amal, seperti kecenderungan kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, atau karena syahwat, kedudukan, harta benda, ketenaran, agar mendapat tempat di hati orang banyak, mendapat sanjungan tertentu.

2. Tidak Sombong Dengan Amal Ibadah
Said bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia menjawab, “Seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap azab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu. Sedangkan ada seseorang yang beramal kebaikan, ia pun senantiasa takabur terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka”.

3. Mengembalikan Semua Urusan Kepada Allah
Saat memperoleh kesedihan, musibah, kehilangan dan rasa kecewa yang sangat tidak menyenangkan. Ataupun ketika mendapatkan kebahagiaan, kecukupan, kelonggaran dan kenikmatan lainnya. Jangan dikira hal tersebut bukan cobaan, sebenarnya itu adalah cobaan yang besar untuk manusia. Segala hal yang terjadi diatas muka bumi merupakan kehendak Ilahi dan yang lalu biarlah berlalu.

Termasuk ilmu ikhlas adalah rela. Semua yang berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya. Maka selayaknya berusaha mengembalikan hati, diri dan jiwa ini untuk mendekat kepada-Nya. Allah akan memberikan pahala serta surga yang indah bagi hamba-Nya yang sabar dan ikhlas menerima apapun bentuk karunia dari Allah.

4. Tak Terpengaruh Pujian dan Hinaan
Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi manusia. Bahkan, Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia dipuji oleh manusia karenanya belaiu menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin”. (HR Muslim).

Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Akan tetapi, janganlah jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab beramal saleh karena hal tersebut bukanlah termasuk dari tanda ilmu ikhlas.

5. Senantiasa Berakhlak Mulia
Akhlak mulia telah dicontohkan dan diajarkan Rasulullah SAW. Akhlak mulia kepada Allah adalah menjalankan perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya. Hal tersebut dilakukan dengan lapang dada dan ketundukan serta kepuasan jiwa.

Sedangkan akhlak mulia kepada orang lain seperti bersedekah, memuliakan ortu, memuliakan guru, berkata sopan, rendah hati, dan banyak lagi.

Makna ikhlas merupakan komitmen tertinggi yang seharusnya ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya: sebuah komitmen tulus ikhlas yang sering dinyatakan dalam doa iftitah. (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Tuhan semesta alam). (QS Al-An’am [6]: 162). Orang yang sudah sampai di tingkat mukhlashin berarti sudah memiliki kemungkinan untuk muncul keajaiban di dalam dirinya sebab tidak mungkin orang itu sampai ke tingkat mukhlashin tanpa kedekatan diri dengan Sang Pencipta.

Ilmu ikhlas dalam Islam merupakan perisai moral yang dapat menjauhkan diri dari godaan setan (Iblis). Menurut At-Thabari, hamba yang mukhlis adalah orang-orang Mukmin yang benar-benar tulus sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, sehingga hati yang murni dan benar-benar tulus itu menjadi tidak mempan dibujuk rayu dan diprovokasi setan. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah berujar, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang meng isi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *