Antisipasi Gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS)

Posted on

Antisipasi gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang berasal dari Kelompok Wahabi (Salafi) Takfiri, yaitu kelompok yg menvonis pihak lain sebagai ‘Kaum Kafir’ jika tidak sepaham dengan langkah-langkah ISIS, baik dari segi aqidah maupun politik. Bahkan mereka juga menghalalkan darah para lawan aqidah dan lawan politiknya, termasuk dari kalangan kaum Wahhabi/Salafi sendiri, yang tidak setuju dengan pola pemikiran, langkah-langkah dan kebijakan ISIS.

Konflik politik yang tidak kunjung selesai di Irak dan Suriah akhirnya memunculkan gerakan politik. Pemerintah Iraq tidak bisa melakukan antisipasi gerakan ISIS. Kemudian gerakan itu dijadikan gerakan internasional di mana dukungan dibuka kepada banyak negara. Mereka terpaksa meminta bantuan dari negara lain.

ISIS ialah singkatan dari Islamic State of Iraq and Syam (Daulah Islam Iraq dan Syam). Pemimpin: Syekh Abu Bakar Al Bahdadi (Penganut Wahhabi/Salafi Jihadi Takfiri). ISIS adalah cabang resmi dari Al Qaedah pimpinan Osamah bin Laden. Mereka saat ini telah membentuk Daulah Islamiyah di Iraq dan Syam (Syiria) dengan mengangkat dan membaiat Khalifah Syeikh Abu Bakar Albaghdadi (asli Iraq).

Globalisasi tidak selalu membawa manfaat bagi kehidupan di tengah masyarakat. Pada satu sisi globalisasi bisa membahayakan eksistensi sebuah negara. Para pimpinan negara harus sadar dan selalu membangun komunikasi untuk melakukan Antisipasi gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Tantangan dari luar akan selalu datang untuk mengancam kehidupan. Untuk itulah harus selalu waspada. Terutama aparat negara harus selalu awas dan waspada. Mereka harus memperingatkan kita semua ketika ancaman itu sudah terasa nyata.

Ketika ada ideologi yang mencoba menyelewengkan ideologi bangsa, maka pemerintah harus hadir untuk meluruskannya. Karena gerakan ISIS sudah jelas menyimpang dan berpotensi memecah-belah umat Islam. MUI juga mengharamkan gerakan Islamic State of Iraq dan Syria (ISIS) tumbuh dan berkembang. Kelompok radikal ISIS juga disebut sebagai salah satu perbuatan yang dilarang bagi umat Islam atau dinyatakan sebagai gerakan haram.

Antisipasi gerakan Islamic State of Iraq dan Syria (ISIS) dilakukan dengan memasukkan pemahaman ajaran Islam yang toleran, saling menghormati, dan menghargai nilai- nilai keberagaman suku, agama, ras, dan budaya, dalam kurikulum wajib di semua lembaga pendidikan. Pendidikan kepada masyarakat merupakan sesuatu yang sangat penting. Peran itu tidak hanya berada di tangan pemerintah dan sekolah, tetapi juga keluarga. Bahkan kita diingatkan pentingnya pendidikan di dalam keluarga. Peran dari keluarga bahkan yang utama, karena dari sanalah dasar pembentukan karakter anak akan terbentuk.

Solusi pencegahan terhadap gerakan ISIS dengan cara memberikan pendidikan sejak dini tentang ilmu yang wajib dipelajari adalah Islam Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja). Di dalamnya, diajarkan pola pikir untuk pemahamaan agama, yakni dengan cara mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli dengan kaum ekstrim naqli. Karena sumber pemikiran bagi Islam tidak hanya Al Quran, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. dengan cara berpikir seperti itu, sesorang tidak mudah tergoyahkan dengan paham kekerasan yang menyimpang.

Antisipasi pencegahan terhadap gerakan ISIS, bisa dilakukan masyarakat dengan mempelajari Islam secara menyeluruh. Semakin dalam pemahaman agama, potensi untuk menjalankan kekerasan dalam berdakwah semakin sedikit. Tidak setengah-setengah. Islam yang menghargai sebuah perbedaan, Islam yang mengajarkan sikap toleransi, sikap saling menghormati, dan tidak memaksakan suatu kehendak. Berusaha memberikan pondasi sejak dini, dengan kajian pemahaman Islam, yang Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi semua manusia dan alam), bukan Islam garis keras.

Hal wajib yang harus dilakukan untuk antisipasi gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) adalah memotong mata rantai aliran pendanaan ISIS. Ladang minyak, pembangkit listrik, bank-bank sentral, dan penjarahan benda-benda kuno menjadi sumber keuangan ISIS. Kelompok pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi itu muncul sebagai organisasi pejuang Islam terkaya dengan total kekayaan di atas 1 miliar dolar AS. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari yang dimiliki Alqaeda dan gerakan pejuang Islam garis keras lainnya.

Sebaiknya memperkuat diri untuk menghadapi ancaman mereka secara bersama-sama dengan cara melakukan antisipasi gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dan tetap waspada dan berhati-hati dengan gerakan ISIS yang menyimpang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *